BIAYA STUDI RELATIF LEBIH MURAH

Gelombang pelajar meninggalkan tanah air untuk menuntut ilmu di Negara lain dirasakan juga oleh Priyan Destiana, direktur Stufen International, salah satu lembaga “pemandu belajar” yang ingin kuliah di Jerman. Selain faktor mahalnya kuliah di dalam negeri, prestise dan sebagainya, alasan lain adalah kabar bahwa di Jerman banyak beasiswa atau gratis kuliah, “ungkapnya tentang kecenderungan calon mahasiswa memilih Jerman sebagai Negara tujuan kuliah.

Sejak tahun 2005 sistem gratis itu sedikit demi sedikit sudah mulai dihapus. Kendati demikian menurut Priyan, biaya studi di Jerman masih sangat murah  dibandingkan dengan Negara industri lainnya.
“walaupun dimasukkan item biaya idup, jumlahnya tidak beda-beda jauh jika kita kuliah di Indonesia. Ada banyak item yang tidak pernah dihitung oleh mahasiswa dan orang tua seperti transportasi, listrik, air, telefon,handphone, atau internet jika kuliah di Indonesia, “ tuturnya.

Ia mencontohkan untuk biaya hidup (living cost) di Jerman sekitar Rp. 4 juta hingga Rp. 7 Juta per bulan, tergantung gaya hidup masing-masing. Ini sudah termasuk akomodasi (tempat tinggal), makanan, pakaian, asuransi, hiburan, transportasi, dan utilities (biaya telefon, handphone, listrik, internet). Perkiraan biaya hidup ini berlaku untuk siswa yang belum berkeluarga dengan asumsi nilai satu euro Rp. 14 ribu.

Pada tahun kedua, biasanya siswa sudah dapat bekerja paruh waktu di sela kuliah atau saat liburan sehingga dapat menekan biaya hidup. Upah atau gaji yang bisa diperoleh antara 300-400 euro per bulan. Pada semester tujuh, siswa dapat kerja magang di industri dan perusahaan dengan bayaran 300-700 euro per bulan.

Sedangkan biaya kuliah di beberapa perguruan tinggi Jerman antara 0-500 Euro, ditambah biaya kursus bahasa Jerman , biaya administrasi kuliah, buku dan perlengkapan kuliah, total biaya per semester berkisar antara  235 euro-627 euro atau antara Rp. 3,3 Juta-Rp. 8,7 Juta  per bulan, juga dengan asumsi nilai satu euro adalah Rp. 14 ribu.

Diakui Priyan yang agak memberatkan calon mahasiswa dan orang tua adalah keharusan menyimpan sejumlah uang di Bank Jerman sebelum tiba disana. Sebagai contoh terbaru, Devina diminta menabung uang sejumlah 7.766 euro (sekitar Rp. 105 Juta) pada Deutsche Bank.

Selama di Jerman, uang itu bisa diambil dengan ketentuan berlaku, misalnya hanya mengambil 643 euro per bulan. Uang di rekening tersebut sepenuhnya tetap milik siswa.  Ini adalah semacam garansi bahwa siswa tersebut tidak akan terlantar disana, “ungkapnya. Rekening itu juga merupakan tiket untuk mendapatkan visa Negara ini.

Sebelum berangkat kesana, perlu pula sejumlah modal untuk terbang kesana. Stufen International menawarkan angka Rp. 53,5 juta sebagai biaya konsultasi jurusan, personality test, kursus bahasa, penerjemahan dokumen, legalisasi dokumen, pendaftaran ke berbagai studienkolleg di Jerman (maksimal 10 studienkolleg), pengiriman aplikasi, berbagai workshop, bimbingan mata pelajaran, dan pencarian tempat tinggal.

Selain itu, biaya digunakan untuk cek kesehatan, pengurusan dan biaya paspor, pengurusan dan biaya visa belajar, bantuan pendampingan, pembukaan rekening Bank, pengurusan dan biaya fiskal, airport tax, serta tiket Jakarta-Hamburg, pendampingan keberangkatan, serta penjemputan di Jerman hingga masa orientasi.

(Uci Anwar, Pikiran Rakyat, 12.04.2009)